Apakah kamu adalah orang yang sering menulis pesan singkat dengan menggunakan instant messenger? Pasti iya! Siapa sih anak muda jaman sekarang yang jarang menggunakan instant messenger seperti whatsapp, line, atau sejenisnya? Mengingat Indonesia merupakan peringkat ke-5 negara pengguna smartphone terbanyak di dunia dan jumlah tersebut diprediksi akan meningkat hingga lebih dari 100 juta orang pada tahun 2018 (Rahmayani, 2015; Yovanda, 2016).

Tidak bisa dipungkiri bahwa instant messenger sangat bermanfaat bagi kehidupan zaman sekarang. Bayangkan kalau kamu masih harus menggunakan telepon dan menulis surat seperti zaman dulu, ketinggalan berita banget kan?

Pesan singkat dengan instant messenger, atau texting, dapat dibilang sangat mudah dan cepat dilakukan, kita tidak perlu menulis huruf per huruf, tetapi cukup dengan kata-kata yang disingkat, contohnya “yang” disingkat menjadi “yg”, “tidak” disingkat menjadi “g”, dan lain-lain. Di samping dari manfaatnya yang banyak banget, beberapa penelitian menemukan dampak negatif dari mengetik pesan dengan moda tersebut lho, khususnya dampak pada kemampuan literasi.

Ross (2007) berargumen bahwa penggunaan moda pesan singkat berdampak negatif pada kemampuan menggunakan tatabahasa hingga kemampuan mengeja kata, khususnya pada pelajar, karena pelajar lebih terbiasa menggunakan kata-kata yang disingkat. Argumentasi Ross (2007) tersebut berdasarkan pada keluhan para pengajar terhadap kemampuan murid-muridnya. Argumen tersebut didukung oleh penelitian dari Al Shlowiy (2014) yang menemukan bahwa penggunaan platform pesan singkat berdampak negatif pada kemampuan belajar bahasa. Siswa-siswa SMA khususnya merasakan dampak yang lebih besar dibandingkan dengan mahasiswa perguruan tinggi, karena siswa SMA tidak cukup matang untuk ketat dalam menggunakan standard-standard menulis secara formal (Yusaf, Khan, & Nazeer, 2015).

Kini

Meskipun riset-riset terdahulu yang telah disebutkan di atas terkesan menganggap bahwa texting membawa dampak buruk bagi kemampuan literasi penggunanya, riset-riset terkini justru tidak mendukung temuan dari riset-riset terdahulu tersebut.

Oueletta dan Michaud (2016) menemukan bahwa keseringan, kecepatan, dan penggunaan singkatan-singkatan ketika texting, sangat kecil berhubungan dengan kemampuan literasi. Artinya, tidak ada bukti yang jelas bahwa texting berdampak negatif pada literasi. Hasil penelitian tersebu sejalan dengan penelitian dari Grace dkk. (2014) yang tidak menemukan adanya hubungan yang konsisten antara texting dan literasi pada partisipan-partisipan mereka. Lebih lanjut lagi, penelitian dari French (2017) malah tidak menemukan hubungan yang signifikan antara texting dan kemampuan menulis.

Hasil-hasil penelitian terbaru tersebut menunjukkan tidak ada bukti-bukti yang jelas bahwa texting berdampak negatif pada kemampuan literasi. Hal ini mungkin dapat dijelaskan dari sudut pandang perkembangan teknologi.

Kok Bisa?

Ponsel dengan Keypad Numerik

Riset-riset terdahulu yang menunjukkan dampak negatif texting terhadap kemampuan literasi paling banyak dilakukan di era sebelum smartphone banyak digunakan oleh masyarakat, era dimana telepon seluler masih memiliki keypad numerik. Kondisi ini memaksa pengguna untuk seefektif mungkin menulis pesan agar proses texting lebih mudah dancepat, sehingga banyak digunakan singkatan-singkatan kata.

Sedangkan riset-riset terkini tidak menemukan adanya hubungan antara texting dengan kemampuan literasi karena smartphone zaman sekarang sudah menggunakan keyboard QWERTY, sehingga pengguna dapat cenderung leluasa mengetik kata-kata tanpa perlu sering menyingkatnya. Hal ini ditemukan dalam penelitian Oullette dan Michaud (2016), dimana partisipan penelitian mereka sedikit sekali menggunakan singkatan kata ketika mengetik dengan smartphone mereka. Selain itu, zaman sekarang kecerdasan buatan di smartphone sudah cukup maju. Banyak smartphone sudah memiliki fitur prediction dan autocorrect.

Terlepas dari temuan-temuan di atas, budaya menulis merupakan hal yang sangat penting. Meskipun kita telah sering menulis di media sosial atau instant messenger hal tersebut tidak menjamin kemampuan menulis yang baik, terutama bagi kalangan pelajar dan akademisi. Oleh karena itu, berlatih menulis secara formal tetaplah penting untuk dilakukan. Tidak lucu kan kalau kita menulis skripsi, jurnal, atau laporan perusahaan dengan bahasa gaul media sosial?

Referensi

Al Shlowiy, A. (2014). TEXTING ABBREVIATIONS AND LANGUAGE LEARNING.International Journal of Arts & Sciences, 7(3), 455-468. Retrieved from https://search.proquest.com/docview/1644634482?accountid=17242

French, J. (2017). The frequency of texting on middle school students’ writing achievement (Order No. 10270796). Available from ProQuest Dissertations & Theses Global. (1902251691). Retrieved from https://search.proquest.com/docview/1902251691?accountid=17242

Grace, A., Kemp, N., Martin, F. H., & Parrila, R. (2014). Undergraduates’ text messaging language and literacy skills. Reading and Writing, 27(5), 855-873. doi:http://dx.doi.org/10.1007/s11145-013-9471-2

Ouellette, G., & Michaud, M. (2016). Generation text: Relations among undergraduates’ use of text messaging, textese, and language and literacy skills. Canadian Journal of Behavioural Science, 48(3), 217-221. doi:http://dx.doi.org/10.1037/cbs0000046

Rahmayani, I. (2015, Oktober 2). Indonesia raksasa teknologi digital Asia. Retrieved from www.kominfo.go.id

Ross, K. (2007). Teachers say text messages r ruining kids’ riting skills. American Teacher, 92(3), 4. Retrieved from https://search.proquest.com/docview/217234261?accountid=17242

Yovanda, Y. R. (2016, Desember 17). Pengguna smartphone di Indonesia terbesar ke-5 di dunia. Retrieved from www.autotekno.sindonews.com

Yusaf, A., Khan, T., & Nazeer, S. (2015). Proliferation of text messaging and its effects on language. International Research Journal of Arts and Humanities, 43(43), 101-115. Retrieved from https://search.proquest.com/docview/1798221557?accountid=17242

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here