Pentingkah First Impression Bagi Kita?

0
28

Ketika tahun pertama kuliah, Saya bertemu pertama kalinya dengan salah satu sahabat saya. Awalnya Saya sangat menghindarinya karena dandanannya (bentuk kacamata dan style celana) mengingatkan Saya pada salah satu bully di SMA saya dulu. Namun karena tuntutan perkuliahan, saya berkali-kali diharuskan untuk berinteraksi dengannya lewat kerja kelompok. Setelah beberapa kali berinteraksi, ternyata ia sama sekali berbeda dengan bayangan bully di SMA saya, bahkan ia adalah orang yang sangat baik bagi saya.

“…first impression kita, terutama pada seseorang, banyak dipengaruhi oleh pengalaman kita di masa lalu.”

Pengalaman Saya tersebut menggambarkan sebuah fenomena “first impression” yang sering dialami oleh banyak orang. Fenomena ini mendeskripsikan sebuah kondisi di mana seseorang melakukan penilaian awal pada suatu subjek atau situasi.

Penilaian awal yang membangun first impression kita, terutama pada seseorang, banyak dipengaruhi oleh pengalaman kita di masa lalu. Misalnya saja, pengalaman yang telah Saya sebutkan di awal. Saya memiliki pengalaman masa lalu yang negatif dengan orang yang memiliki bentuk kacamata dan style celana yang sedemikian rupa, sehingga ketika Saya bertemu dengan orang yang memiliki penampilan serupa, muncul first impression yang negatif pada orang tersebut.

Di banyak situasi, first impression sebenarnya dapat dimanipulasi. Misalnya ketika akan mendatangi wawancara kerja, kita dapat berdandan dan berperilaku sedemikian rupa agar menampilkan first impression yang positif, misalnya dengan memakai jas dan dasi. Employer atau perekrut akan memiliki first impression yang positif dan sedikit banyak dapat membantu peluang untuk lolos ke tahapan seleksi selanjutnya. Secara pengalaman, orang akan melihat first impression yang positif pada kerapian, sehingga orang yang memakai jas dan dasi yang rapi akan menimbulkan first impression yang positif pada orang-orang di sekitarnya.

Contoh lain dari cara memanipulasi first impression dapat dilihat dari penelitian yang dilakukan oleh Horn (1980, dalam Quinn 1985). Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa pramusaji yang menyematkan bunga di rambutnya mendapatkan uang tips yang lebih banyak. Hal ini karena bunga tersebut menimbulkan first impression yang positif pada pelanggan restoran (hampir semua orang menyukai bunga, kan?).

Jadi, memang benar “don’t judge the book by its cover”, tapi tidak ada salahnya kita mendandani penampilan kita, agar menimbulkan first impression yang positif kepada orang-orang di sekitar kita. Sedikit banyak, hal ini dapat mendatangkan keberuntungan buat kita, lho!

Referensi:

Quinn, V. N. (1984). Applying psychology.USA: McGraw-Hill.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here