Rasa sakit merupakan hal yang wajar dialami oleh manusia. Eits, kita tidak sedang membahas sakit hati ya, tapi kita membahas sakit fisik yang biasa kita rasakan.

Manusia dapat mengalami rasa sakit mulai dari rasa sakit yang ringan seperti digigit semut, hingga rasa sakit yang intens seperti rasa sakit saat melahirkan. Reaksi manusia terhadap rasa sakit secara naluriah tentunya adalah avoidant atau cenderung menghindari mengalami rasa sakit.

“… ketika membayangkan bahwa suntikan akan terasa sakit, maka suntikan tersebut akan benar-benar terasa sakit.”

Rasa sakit biasanya disebabkan oleh stimulus dari luar yang menyebabkan reseptor nyeri kita teraktivasi. Reseptor tersebut kemudian meneruskan informasi tersebut ke otak bahwa kita sedang merasakan sakit. Selanjutnya otak akan mengambil langkah dengan memerintahkan anggota tubuh yang merasakan sakit untuk menhindari benda yang menyebabkan rasa sakit tersebut.

Pada kondisi alami, rasa sakit merupakan sistem refleks kita yang menunjukkan bahwa kita sedang dalam bahaya yang merusak tubuh dan kita harus menghindari kondisi tersebut. Namun pada situasi tertentu, rasa sakit tidak bisa dihindari. Misalnya ketika kita disuntik, menjalani operasi ringan, hingga ketika dalam proses melahirkan.

Meskipun utamanya rasa sakit disebabkan oleh stimulus fisik, ternyata faktor psikologis juga berkontribusi menyebabkan rasa sakit tersebut, lho! Misalnya ketika kita sedang disuntik, ketika membayangkan bahwa suntikan akan terasa sakit, maka suntikan tersebut akan benar-benar terasa sakit. Hal ini bekerja seperti sugesti dalam pikiran kita.

Berdasarkan hal tersebut, kita bisa memanipulasi pikiran kita untuk mengurangi rasa sakit yang kita rasakan, lho! Berikut ini dua metode utama untuk memanipulasi pikiran kita (McMahon & McMahon, 1986).

  1. Metode mendistraksi pikiran dapat kita lakukan untuk rasa sakit yang ringan dan singkat, misalnya rasa sakit ketika disuntik dengan jarum suntik. Kita dapat mendistraksi pikiran kita dengan hal-hal lain agar pikiran kita tidak terlalu memikirkan rasa sakit yang akan dirasakan. Kita dapat mendistraksi pikiran kita dengan hal-hal seperti: menu malam ini, suasana sore hari di kampung halaman, dan lain-lain.
  2. Metode redefinisi dapat diterapkan untuk rasa sakit yang berkelanjutan, seperti rasa sakit ketika melahirkan atau ketika menjalani operasi minor. Cara ini dilakukan dengan menerima rasa sakit yang ada dan mendefinisikan rasa sakit itu menjadi hal yang lain. Misalnya, ketika kita sedang melakukan facial wajah, kita bisa menyugesti diri kita sendiri bahwa rasa sakit akibat pencetan-pencetan terapis tersebut adalah pijatan hangat yang mengeluarkan kotoran di wajah dan akan membuat wajah kita lebih bersih.

Mengapa cara-cara tersebut dapat berhasil mengurangi rasa sakit kita? Secara umum, cara tersebut mengurangi tingkat stres dan kecemasan kita (McMahon & McMahon, 1986). Selain itu, cara-cara tersebut juga dapat menyugesti otak untuk mempersepsi rasa sakit yang dirasakan menjadi lebih rendah (McMahon & McMahon, 1986).

 

Daftar Pustaka

McMahon, F. B., & McMahon, J. w. (1986). Psychology: The Hybrid Science. 6th ed. Chicago: The Dorsey Press.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here