Pernahkah kamu tidak bisa tidur, padahal kamu sudah rebahan di atas kasur satu jam yang lalu? Mungkin kesulitan tidur kamu ini berhubungan dengan perilaku kamu makan atau kerja di atas kasur. Eits, apa hubungannya?

Seringkali kita melakukan berbagai macam aktivitas di atas kasur atau tempat tidur, terutama bagi kamu anak kosan, atau kamu yang suka berdiam diri di kamar. Mulai dari makan, membaca buku, mengerjakan tugas, hingga bermain game. Padahal fungsi utama dari tempat tidur kan tempat untuk tidur.

“… untuk aktivitas yang merupakan esensi dari adanya tempat tidur, yaitu tidur, kita malah gagal.”

Kita sukses melakukan aktivitas-aktivitas tersebut di tempat tidur, tetapi untuk aktivitas yang merupakan esensi dari adanya tempat tidur, yaitu tidur, kita malah gagal. Apa yang sebenarnya terjadi?

Gangguan tidur dialami oleh banyak orang. Penyebab dari gangguan tidur tersebut bisa berbagai macam hal, mulai dari stres, masalah kesehatan, dan lain-lain. Salah satu penyebab yang mungkin memiliki kontribusi pada gangguan tidur kita dapat dilihat dari sudut pandang Pavlovian Conditioning.

Apa itu Pavlovian Conditioning? Disebut juga Classical Conditioning, Pavlovian Conditioning merupakan salah satu teori psikologi belajar (behaviorism) yang dikemukakan oleh Ivan Pavlov. Secara prinsip, teori ini melihat bahwa suatu stimulus atau kondisi netral, dapat kita asosiasikan dengan stimulus atau kondisi yang kita rasakan, apabila kedua stimulus/kondisi tersebut hadir beriringan secara terus menerus.

Misalnya saja, stimulus kasur (sebagai stimulus netral) yang selalu diiringi oleh stimulus kantuk (sebagai stimulus yang kita rasakan), karena tiap kali kita merasakan kantuk kita selalu merebahkan diri ke kasur. Karena kantuk selalu diasosiasikan dengan kasur, pada akhirnya hanya dengan melihat atau merebahkan diri di kasur saja, kita sudah merasakan kantuk, padahal sebelumnya, kita tidak merasakan kantuk.

“… malahan kita jadi merasakan intensnya mengerjakan tugas ketika kita rebahan untuk tidur.”

Asosiasi antara kantuk dan kasur tersebut dapat terganggu apabila kita memasangkan stimulus kasur dengan stimulus lainnya yang kita pahami, misalnya stimulus/kondisi tegang ketika mengerjakan tugas. Apabila kita terbiasa mengerjakan tugas di atas kasur, kita membuat asosiasi baru antara kasur (sebagai stimulus netral) dengan mengerjakan tugas (sebagai stimulus yang kita rasakan). Sekarang, asosiasi eksklusif kasur dengan kantuk pun terganggu dan kita menjadi less-likely untuk merasakan kantuk lagi ketika di atas kasur, malahan kita jadi merasakan intensnya mengerjakan tugas ketika kita rebahan untuk tidur.

Nah, hal yang telah dijelaskan di atas mungkin bisa menjadi salah satu alasan mengapa kita sulit untuk tidur. Jadi, mari kita mulai mengatur kebiasaan kita untuk tidur di tempat tidur, makan di tempat makan, dan belajar di meja belajar. Meskipun banyak faktor lain yang membuat kita sulit tidur, membuat kebiasaan tersebut sedikit banyak dapat berkontribusi pada perilaku tidur sehat kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here