Seorang perampok, turun dari minibus berwarna silver dan menodongkan pistol kearah seorang wanita yang sedang menunggu bus di halte. Karena wanita tersebut melakukan perlawanan, perampok tersebut kemudian menembak wanita tersebut hingga meninggal. Setelah perampok itu berhasil merebut tas si wanita, ia kemudian masuk kembali ke dalam minibus dan kabur. Budi, orang yang kebetulan berada di halte yang sama dengan si wanita merupakan satu-satunya saksi mata dari kejadian tersebut.

“Saksi mata adalah manusia yang memiliki keterbatasan dalam memorinya.”

Polisi kemudian mulai melakukan olah TKP, termasuk menanyai Budi soal kejadian perampokan tersebut. Meskipun sudah memiliki saksi mata akan kejadian tersebut, polisi tidak bisa menjadikan testimoni dari saksi mata sebagai satu-satunya alat untuk menahan si perampok. Mengapa demikian?

Saksi mata adalah manusia yang memiliki keterbatasan dalam memorinya. Menurut Matlin (1994), saksi mata dapat memberikan kesaksian yang tidak akurat karena hal-hal berikut ini.

  1. Terdapat distraksi yang memicu emosi saksi ketika peristiwa terjadi. Distraksi yang emosional tersebut dapat berupa sesuatu yang memicu emosi takut pada diri saksi, misalnya pistol yang digunakan oleh pelaku dalam aksinya. Alih-alih menaruh perhatian pada peristiwa dan wajah pelaku, saksi akan lebih memusatkan perhatiannya pada pistol si pelaku karena takut sewaktu-waktu pistol tersebut dapat melukai dirinya. Akibatnya, saksi tidak mampu mengingat secara akurat detil-detil dari peristiwa, termasuk wajah atau ciri-ciri pelaku yang seharusnya bisa digunakan oleh polisi untuk mengidentifikasi pelaku.
  2. Adanya durasi waktu tertentu, antara peristiwa hingga ketika saksi dimintai keterangannya, dapat mengurangi akurasi saksi dalam mengingat. Memori manusia bekerja dengan menembakkan impuls tertentu secara berulang-ulang di neuron tertentu sehingga kita dapat mengingat sesuatu. Namun seiring dengan berjalannya waktu, apabila kita tidak berusaha mengulang-ulang kembali suatu ingatan, tembakan-tembakan impuls tersebut akan berhenti sedikit demi sedikit sehingga menyebabkan informasi tersebut menghilang dari ingatan. Begitu pula halnya dengan apa yang dialami oleh saksi, seiring dengan berjalannya waktu, kemampuan dan keakuratan saksi untuk menyampaikan detil-detil suatu peristiwa akan berkurang.
  3. Hal-hal lain yang terjadi setelah kejadian, dapat membuat rancu memori saksi karena hal-hal tersebut tercampur dengan detil-detil dari kejadian. Misalnya, di hari yang sama setelah kejadian perampokan, Budi juga menyaksikan peristiwa tabrak lari yang dilakukan oleh mobil minibus berwarna hitam. Hari selanjutnya ketika dimintai keterangan oleh polisi soal warna mobil yang digunakan oleh perampok, Budi malah mengatakan bahwa mobil pelaku berwarna hitam, karena detil peristiwa perampokan rancu dengan detil peristiwa tabrak lari.
  4. Orang lebih susah mengingat wajah orang-orang yang berasal dari ras yang berbeda dari dirinya (Shapiro & Penrod, 1986 dalam Matlin, 1994). Hal ini akan menjadi sulit bagi Budi, yang merupakan orang Minang, apabila pelaku dari perampokan adalah orang kulit putih. Secara praktik, Budi akan lebih mudah mengingat wajah orang-orang Minang, Batak, Jawa, atau yang hampir serupa, dan akan kesulitan mengingat wajah orang kulit putih.

Hal-hal di atas seringkali menjadi pertimbangan dalam pengadilan. Selain mempertimbangkan aspek hukum dari suatu peristiwa, penegak hukum juga harus mempertimbangkan aspek psikologis dari pelaku, korban, maupun saksi. Itulah kenapa kadangkala ahli psikologi diundang sebagai saksi ahli dalam beberapa pengadilan kasus tertentu. Pembahasan lebih detail soal peran psikologi dalam pengadilan berada di bidang ilmu psikologi forensik.

 

Referensi

Matlin, M. W., (1994). Cognition. 3rd ed. Orlando: Holt, Rinehart, and Winston, Inc.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here