Tut.. tut.. tut.. hampir setiap 10 menit sekali gawai (gadget) kita berbunyi tanda ada pesan masuk dalam grup WhatsApp, Telegram, maupun tanda notifikasi Instagram yang tiada habisnya. Seakan tidak ada jeda kita menerima informasi-informasi ini. Saat kita sedang makan, belajar, memasak, hingga bekerja. Kita bekerja sambil bermain Facebook, belajar sambil membuka Instagram adalah hal yang lumrah di era digital ini, namun apakah dampaknya terhadap atensi dan fokus kita?

Herbert Simon, seorang peraih nobel ekonomi tahun 1977, menulis tentang dunia yang banjir informasi. Dia mengingatkan bahwa banjir informasi dapat membuat kita menjadi miskin atensi dan tidak fokus. Padahal kemampuan memfokuskan diri terhadap sesuatu adalah hal yang penting dalam kesejahteraan psikologis seseorang.

Dua Jenis Distraksi

Ada dua jenis distraksi atau ganguan untuk dapat fokus atau memperhatikan sesesuatu, yakni ganguan sensoris dan ganguan emosional. Gangguan sensoris dapat berupa stimulus-stimulus sensoris yang menganggu perhatian atau atensi kita. Misalnya ketika kamu sedang membaca, seseorang lewat dihadapanmu sehingga kamu menghentikan bacaanmu, atau ketika kamu sedang ingin mendengarkan seuatu dengan seksama tiba-tiba kamu mendengar gawai (gadget) kamu berbunyi karena ada pesan yang masuk sehingga kamu mengesampingkan perhatianmu dalam mendengarkan sesuatu.

Sementara itu, ganguan emosional dapat berupa emosi yang muncul saat kita berusaha untuk memfokuskan diri pada sesuatu. Misalnya saja ketika kamu sedang fokus untuk menulis di sebuah café tiba-tiba ada seseorang yang kamu lihat mirip dengan mantan pacar kamu atau seseorang yang kamu sukai. Stimulus inilah yang memancing emosimu sehingga kamu berhenti menulis dan menjadi berpikir tentang orang itu.

Atensi Berhubungan Dengan Performa

Daniel Goleman (2013), seorang psikolog Amerika, menyatakan bahwa semakin banyak atensi kita mendapatkan ganguan, semakin buruk performa kita terhadap sesuatu. Untungnya hal ini dapat diatasi dengan selective attention. Dimana kita dapat memfokuskan diri dan memilih sesuatu yang akan kita perhatikan. Kemampuan kita dalam memfokuskan diri dan berpindah dari satu hal ke hal yang lain merupakan kemampuan yang penting untuk kesejahteraan psikologis. Semakin baik kemampuan kita dalam menaruh fokus dan perhatian pada satu hal, maka semakin baik pula performa kita dalam mengerjakan sesuatu.

Studi neurosains menyatakan bahwa pada saat kita sedang memfokuskan diri terhadap sesuatu hal, prefrontal cortex otak kita berada dalam kondisi sinkronisasi dengan kesadaran yang disebut dengan “phase locking”. Semakin baik kita memfokuskan diri terhadap sesuatu, semakin baik sinkronisasi otak kita dalam tahap kesadaran ini. Pada saat otak kita dalam kondisi ini, kita cenderung menghasilkan performa terbaik, apapun tujuan yang akan kita lakukan.

Untuk itu ketika kita ingin fokus melakukan suatu hal, jauhkanlah dahulu hal-hal yang dapat mengangu fokusmu, seperti membuka media sosial, karena kemapuan fokus kita amatlah terbatas. Selain itu kemampuanmu untuk memfokuskan diri terhadap sesuatu juga dapat ditingkatkan, sama halnya ketika kita melatih kemampuan otot kita saat berolahraga.

Referensi:

Goleman, D. (2013). Focus: The Hidden Driver of Excellence. New York: Harper Publisher.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here