Pernahkah kamu mendengar berita mengenai orang yang bunuh diri? Seberapa seringkah kamu mendengar berita itu? Faktanya, menurut WHO, angka bunuh diri di Indonesia mencapa 10.000 kasus per tahun pada tahun 2016 (Herman, 2014; Priherdityo, 2016). Angka ini meningkat dua kali lipat dari tahun 2010 yang sebanyak 5000 kasus per tahun (Herman, 2014).

Perilaku bunuh diri mayoritas disebabkan oleh fase depresi yang dialami seseorang. Studi-studi sebelumnya telah mengkonfirmasi bahwa gejala depresi memiliki peran yang besar pada perilaku bunuh diri (de Man, 1999; Garlow et al., 2008; Konick & Guiterrez, 2005).

Semua orang berisiko mengalami depresi, termasuk kamu. Kabar baiknya, depresi tidak selalu berujung pada perilaku bunuh diri. Penelitian dari Wang (2013) menemukan dua fakktor yang dapat mencegah perilaku bunuh diri pada orang yang depresi. Faktor-faktor tersebut adalah:

1. Self-Esteem yang Tinggi

Self-Esteem dalam pengertian Wang (2013) adalah penilaian seseorang terhadap kualitas dan kemampuan dirinya. Orang yang memiliki self-esteem tinggi artinya ia memiliki penghargaan yang tinggi terhadap kualitas dan kemampuan diri sendiri, sehingga orang tersebut tampil dengan rasa kepercayaan diri yang tinggi. Hal tersebut mengurangi risiko bunuh diri ketika mengalami depresi.

2. Suicidal Resilience yang Tinggi

Menurut Wang (2013), suicidal resilience adalah kemampuan diri untuk mengontrol pikiran, perasaan, dan sikap yang berkaitan dengan dorongan untuk bunuh diri. Orang dengan suicidal resilience yang tinggi memiliki kemampuan yang baik untuk mengontrol pikiran, perasaan, dan sikap tersebut. Selain itu, orang yang memiliki suicidal resilience yang tinggi juga memiliki kepuasan hidup yang tinggi sehingga kecenderungannya untuk bunuh diri semakin kecil (Wang, 2013).

Orang dengan suicidal resilience yang tinggi juga memiliki kemampuan yang baik dalam mempertahankan stabilitas emosi (Wang, 2013), sehingga ia cenderung lebih tenang dalam menghadapi masalah-masalah hidup.

Faktor-faktor di atas mampu mencegah kita untuk melakukan bunuh diri meskipun kita sedang mengalami depresi. Oleh karena itu, marilah kita berusaha untuk selalu menghargai diri, percaya pada diri, dan berpikir positif dalam setiap aktivitas kita agar kita sukses ketika menghadapi masa-masa sulit dalam hidup.

Oleh Hanief Kautsar

Daftar Pustaka

de Man, A.F. (1999). Correlates of suicide ideation in high school students: The importance of depression. The Journal of Genetic Psychology, 160(1), 105-114. Retrieved from https://search.proquest.com/docview/228428684?accountid=17242

Garlow, S. J., Rosenberg, J., L, C. S. W., Moore, J. D., Haas, A. P., Koestner, B., Nemeroff, C. B. (2008). Depression, desperation, and suicidal ideation in college students: Results from the american foundation for suicide prevention college screening project at emory university. Depression and Anxiety (Hoboken), 25(6), 482-488. doi:http://dx.doi.org/10.1002/da.20321

Herman (2014, September 11). WHO: Angka bunuh diri di Indonesia capai 10.000 per tahun. Berita Satu. Diunduh dari http://www.beritasatu.com/kesehatan/209155-who-angka-bunuh-diri-di-indonesia-capai-10000-per-tahun.html pada 21 Juli 2017.

Konick, L. C., & Gutierrez, P. M. (2005). Testing a model of suicide ideation in college students. Suicide & Life – Threatening Behavior, 35(2), 181-92. Retrieved from https://search.proquest.com/docview/224871926?accountid=17242

Priherdityo, E. (2016, June 23). Kejadian bunuh diri tak dianggap serius di Indonesia. CNN Indonesia. Diunduh dari https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160623125239-255-140375/kejadian-bunuh-diri-tak-dianggap-serius-di-indonesia/ pada 21 Juli 2017.

Wang, C. (2013). Depression and suicide behavior among college students: Understanding the moderator effects of self-esteem and suicide resilience (Order No. 3597985). Available from ProQuest Dissertations & Theses Global; Psychology Database. (1458620283). Retrieved from https://search.proquest.com/docview/1458620283?accountid=17242

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here