Oleh Zivana Sabili*

Kematian tidak dapat dihindari siapapun. Beberapa dari kita menolak untuk memikirkannya, apalagi untuk membicarakannya. Akan tetapi kenyataannya kita akan senantiasa kehilangan orang-orang di sekitar kita, meskipun sekarang mungkin sebagian dari kita belum pernah merasakannya. Apa yang harus kita lakukan jika teman kita kehilangan orang yang dikasihi?

Menurut Kübler-Ross dan David Kessler (2014), seseorang yang berduka biasanya akan melewati lima tahap: penyangkalan, marah, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan.

Pada tahap pertama, ia menolak memercayai situasi. Ia mungkin mengatakan, “Ini pasti mimpi, tidak mungkin ia meninggal.” Penyangkalannya merupakan cara alamiah untuk mempertahankan diri ketika mendapat kabar dukacita yang amat menyakitkan tersebut.

Ia mungkin tidak menunjukkan reaksi sedih atau menangis, sebagaimana reaksi para aktor dan aktris di televisi ketika ada tokoh yang meninggal dalam sebuah sinetron. Ia mungkin sekilas terlihat seperti ‘mati rasa’ atau kurang peduli dengan apa yang sedang terjadi, tetapi jangan serta-merta langsung menghakiminya. Reaksinya merupakan sesuatu yang lumrah, suatu bentuk pertahanan diri. Jika ia sedang berada di tahap ini, berikan waktu baginya untuk memahami situasi, pikiran, dan perasaannya sendiri.

Di tahap kedua, ia sudah menyadari hilangnya sosok yang disayangi. Wajar jika ia marah. Dengarkan ceritanya. Jangan berusaha mengalihkan topik ke pembahasan yang lebih menyenangkan, karena ia butuh sarana untuk meluapkan perasaannya. Jangan pula menyeramahinya dengan pembahasan agama atau mendesaknya untuk mendadak ikhlas. Berkoar-koar bahwa sosok yang dikasihinya tidak akan ‘pergi dengan tenang’ dan akan mendekam di neraka apabila ia marah pada Tuhan, dokter yang gagal menyelamatkan nyawa, ataupun orang-orang lain yang gagal mencegah terjadinya kematian tersebut tidak akan membantu.

Di tahap ketiga, ia akan melakukan tawar-menawar dengan sosok yang dianggap bisa mempengaruhi situasi, baik Tuhan, orang lain, maupun dirinya sendiri. Ia mungkin akan berkata, “Tuhan, aku rela menjadi miskin jika semua uang yang aku miliki bisa membawanya ke dokter.” Atau, “Aku berjanji pada diri sendiri bahwa aku akan jauh lebih perhatian pada teman-temanku, terlebih lagi jika aku tahu mereka sedang mengalami masalah. Jika saja waktu bisa berputar kembali… aku pasti bisa mencegahnya overdosis obat-obatan dan ia akan baik-baik saja sekarang.”

Pada tahap ini ia akan cenderung memikirkan hal-hal yang seharusnya bisa dilakukan untuk memutar-balikkan keadaan. Ia mungkin merasa bersalah atau menyalahkan orang lain. Hormati proses ini. Biarkan ia melaluinya. Ingatkan saja ia akan kehadiranmu apabila ia membutuhkan.

Tahap keempat adalah kesedihan mendalam. Ia mungkin murung, tidak bergairah, bahkan menarik diri dari pergaulannya. Depresi di tahap ini bukanlah gangguan mental yang harus dihilangkan, melainkan reaksi alamiah. Jangan melarangnya bersedih. Jika ia menangis, jangan memintanya berhenti menangis. Biarkan ia mencerna dan memahami kesedihannya.

Penerimaan adalah tahap terakhir. Penerimaan bukan berarti merasa baik-baik saja, namun mampu menerima realita hidup tanpa orang yang dikasihi, beradaptasi dengan situasi, dan bergerak maju. Di tahap inilah kita dapat membantunya kembali beraktivitas. Tidak perlu memaksanya kembali ceria. Tidak perlu memaksanya kembali seperti dulu. Cukup pastikan bahwa ia memiliki segala yang ia butuhkan untuk kembali produktif dan berdiri dengan kakinya sendiri.

Dengan membantunya melewati kelima tahap berduka tersebut, peranmu sebagai teman yang baik telah terpenuhi. Kelima tahap di atas hanyalah gambaran umum mengenai apa yang biasanya dialami oleh orang yang berduka, namun pada akhirnya prosesnya bisa unik bagi tiap-tiap orang. Jangan takut, jika kamu kebingungan, selalu ada tenaga psikolog profesional yang bisa membantu.

Kamu tidak harus melakukannya sendiri, sebab mendampingi teman yang berduka memang bukan tugas yang mudah.

But the mere fact that you’re reading this article

already proves that you care

and that you are a great friend.

Keep up the good work!

 

*Penulis merupakan alumni Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang kini bekerja sebagai research consultant di industri market research

Referensi

Kübler-Ross, E., & Kessler, D. (2014). On grief and grieving: Finding the meaning of grief through the five stages of loss. New York: Simon and Schuster.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here