Di era modernisasi sekarang ini, orang berbondong-bondong mengadu nasib di kota-kota besar. Hal ini terjadi karena pergerakan ekonomi lebih terpusat di kota-kota besar. Orang-orang pun mulai tinggal di kota dan membuat kota semakin padat. Kondisi kota yang padat ini menimbulkan berbagai macam komplikasi, dari kejahatan jalanan, hingga masalah kesejahteraan sosial.

Salah satu ciri khas dari kehidupan perkotaan adalah situasi masyarakat yang cenderung individualis dibandingkan dengan masyarakat pedesaan. Di pedesaan, kita masih mengenal tetangga-tetangga di RT kita. Namun di kota, banyak orang yang tidak mengenal tetangga mereka, sehingga masyarakat perkotaan terkesan kurang ramah. Kondisi ini juga merupakan keniscayaan kehidupan di kota. Mengapa demikian?

“… di kota, banyak orang yang tidak mengenal tetangga mereka”

Lingkungan perkotaan yang notabene memiliki populasi yang padat, menyebabkan individu merasa kurang nyaman dengan lingkungannya. Selain terkait dengan kepadatan populasi, di kota juga terdapat banyak sekali stimulus yang hadir di hadapan individu, terutama ketika berinteraksi dengan orang lain. Untuk satu atau dua interaksi, mungkin dapat ditoleransi oleh seseorang, tetapi orang tersebut tidak akan mampu tetap menjaga interaksi dengan ratusan orang yang ditemuinya dalam sehari.

Secara praktik, di pedesaan kita bisa menyapa semua orang yang kita temui karena populasi pedesaan tidak terlalu padat. Di perkotaan, kita tidak bisa menyapa semua orang yang kita temui. Bayangkan saja, tentu kita tidak akan menyapa semua orang yang kita temui di stasiun atau di trotoar kan? Usaha kita untuk tidak menyapa semua orang tersebut merupakan salah satu contoh bentuk usaha kita untuk mengurangi stimulus yang kita hadapi. Usaha tersebut mencakup usaha memisahkan diri dari interaksi sosial yang tidak terlalu penting.

Pemisahan diri tersebut menjadi sebuah kebiasaan bagi orang kota pada umumnya. Pemisahan diri ini membantu masyarakat kota/urban untuk mengurangi stres sehari-harinya. Namun pemisahan diri ini juga menghasilkan komplikasi yang signifikan. Secara mikro, pemisahan diri menjauhkan individu dari interaksi sosial sehingga ia cenderung tidak mengenal orang-orang di sekitarnya. Secara makro, pemisahan diri menjauhkan masyarakat untuk mengenal dan membuka diri pada orang-orang di sekitarnya.

“Orang-orang mulai membangun pagar yang tinggi…”

Hal tersebut dapat memicu munculnya prasangka buruk dan stereotype yang destruktif. Tawuran dan konflik antargolongan menjadi semakin marak karena saling curiga. Orang-orang mulai membangun pagar yang tinggi karena takut orang yang tidak dikenal masuk ke pekarangan rumahnya dan melakukan kejahatan. Secara individu, masyarakat kota juga lebih mudah mencurigai orang-orang yang ditemuinya di jalan.

Meskipun di satu sisi stereotype dan prasangka buruk menjauhkan orang kota satu sama lain, di sisi lain stereotype dan prasangka buruk membantu masyarakat kota untuk melindungi diri mereka.

Hal-hal yang telah disebutkan di atas merupakan keniscayaan kehidupan urban/perkotaan. Kita bisa memetik pelajaran dari hal-hal tersebut dan mengambil sisi positifnya. Meskipun komunitas urban dianggap merepresentasikan modernisasi, kita dapat membuat modernisasi tersebut terasa lebih indah dengan mulai mengubah lingkungan kita agar lebih mempromosikan interaksi antar-warganya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here