Are you Okay?”. “No, I am not… Its just in instagram I look good”. Salah seorang teman bercerita pada saya sembari menangis.

Saya tertarik menulis ini, ketika saya mendapat banyak sekali “curhatan” betapa sedihnya kawan-kawan saya dan betapa mereka merasakan ketidakpuasan dalam hidup. Hal ini berbeda sekali dengan hal-hal yang mereka tampakkan di media sosial maupun instagram. Di instagram mereka tampak luar biasa, jalan-jalan, liburan, berkarya, nongkrong, belanja, membeli barang-barang yang mereka inginkan. Pokoknya “the world seems so perfect and happy” dalam instagram.

“…ketidakpuasaan dan ketidakbahagian justru meningkat pada zaman dimana serba ada, dimana kita bisa mengkonsumsi apa saja yang kita mau.”

Tapi ketika beberapa teman bercerita bahwa mereka kesepian, sering merasa “helpless”, tanpa arah, merasa hampa dan sedih, saya tau ada hal yang menggangu dalam kehidupan mereka. Fenomena ini persis sekali yang tertulis dalam laporan New York Post di awal tahun 2017, yang menulis bahwa generasi Langgas (Millenial) lebih banyak mengalami depresi dan ketidakpuasan hidup daripada generasi yang lain.

Diskusi mengenai depresi mungkin bukanlah hal yang awam di Indonesia, tapi setidaknya banyak riset yang menunjukkan bahwa depresi merupakan fenomena global yang cenderung meningkat di zaman “now”. Salah satu temuan menarik soal depresi adalah, ketika ketidakpuasaan dan ketidakbahagian justru meningkat pada zaman dimana serba ada, dimana kita bisa mengkonsumsi apa saja yang kita mau.

Seorang psikolog, David G. Myres menulis dalam artikel di American Psychologist bahwa dibandingkan dengan kakek nenek kita zaman dahulu, generasi masa kini yang hidupnya lebih makmur dan mengonsumsi lebih banyak hal justru mengalami risiko depresi yang lebih besar dan mengalami berbagai macam gangguan patologi sosial. “Temuan ini meningkat disaat budaya konsumsi dan konsumerisme mencapai puncaknya” tulis Myres.

Depresi dan Materialisme

Menurut redcrowmarketing, generasi “saya” dan generasi langgas ini, merupakan generasi korban iklan yang setidaknya mendapatkan paparan 4.000 sampai 10.000 iklan tiap harinya. Setiap kali kita membuka news feed di media sosial dan dalam setiap layar sentuh yang kita buka, ada sebuah pesan yang mengatakan, bahwa ketika kamu membeli atau mendapatkan barang-barang manufaktur dan pabrikan, maka hidup kita akan lebih bahagia.

“…ada sebuah harga yang harus dibayar terhadap orientasi berlebihan terhadap materialisme.”

Ada sebuah pesan yang terus menerus mengatakan bahwa ketika kamu mempunyai banyak uang, dan mengkonsumsi barang apa saja yang kamu inginkan maka kamu akan bahagia dan hidupmu baik-baik saja. Maka tak heran banyak orang mendefiniskan diri mereka dengan apa yang mereka konsumsi. “Aku adalah apa yang aku beli dan aku punya”, dan segala sesuatunya dinilai dari hal-hal yang bersifat materialisme.

Tim Kasser, seorang psikolog berkebangsaan Amerika, menyebutkan bahwa ada sebuah harga yang harus dibayar terhadap orientasi berlebihan terhadap materialisme. Harga itu adalah kesejahteraan psikologis manusia atau yang lebih awam disebut dengan “well-being”.

Dalam bukunya “The High Price of Materialism”, Kasser menulis bawa semakin tinggi nilai materialisme yang dianut maka perilaku “prososial” akan semakin menurun, dan orang akan menjadi lebih self-centered dan individualis. Kasser juga menyebutkan bahwa ketika orang memiliki nilai materialsme yang tinggi dan hidup dengan orientasi ini, misalnya sangat menjujung tinggi kesusksesan finasial, mendefinisikan diri dengan barang-barang yang dimiliki, orang-orang inilah yang mengalami “well-being” dan kepuasan hidup yang lebih rendah, memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap kecemasan, “insecurity”, dan juga depressi.

Melek Isu Terhadap Isu Kesehatan Mental

Lebih membuka diri terhadap isu kesehatan mental serta mengedepankan nilai-nilai intrinsik adalah salah satu cara untuk mengurangi fenomena depresi di zaman “now”. Membuka diskusi terkait depresi, mencari informasi terkait depresi dan kesehatan mental serta mencari bantuan ketika mengalami depresi dan ganguan psikologis yang lain adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini. Jadi jangalah malu untuk mencari bantuan ketika kamu mengalami gejala depresi.

#Bila kamu suka dengan artikel ini, bagikan keteman-temanu dan jika kamu ingin berbagi dan berdampak untuk kehidupan orang lain. Kamu bisa menulis artikel seputar psikologi lainnya di office@haisobat.id , Yuk berbagi manfaat dan kebahagiaan untuk orang lain.

 

Daftar Pustaka

Deangelis, Tori. “Consumerism and it’s discontents”. Monitor on Psychology,American Psychological Association, June 2004, www.apa.org/monitor/jun04.discontents.aspx/.

Kasser, Tim. (©2002) The high price of materialism /Cambridge, Mass.: MIT Press,

Paul, K. “Millenials are more depressed at work than any generation.” New York Post, 14 Feb.2017,https://nypost.com/2017/02/14/millennials-are-more-depressed-at-work-than-any-generation/.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here