Otak dari orang yang dapat membaca berbeda dari otak orang yang tidak dapat membaca. Perbedaan secara fisik/neurologis tentu saja tidak dapat terlihat, tetapi perbedaan tersebut dapat dilihat dari efeknya pada fungsi-fungsi otak, intelegensi, bahkan usia harapan hidup.

Terdapat Area di Otak yang Khusus Berfungsi untuk Mengenali Kata-Kata.

Otak orang yang dapat membaca berbeda dari orang yang tidak belajar membaca. Ternyata terdapat area di otak yang memiliki peran dalam kemampuan membaca kita, sehingga apabila area ini rusak maka kemampuan membaca kita akan terganggu. Area tersebut berada di area kiri bawah otak bagian belakang (left ventral temporal occipital) (Heinrich, 2015). Area pengenalan kata-kata yang membantu kita membaca ini berada di antara area pengenalan wajah dan area pengenalan objek.

Meskipun memiliki area khususnya sendiri di otak, ketika kita mulai belajar membaca dan mengenali kata-kata, terjadi banyak perubahan di otak secara umum, baek di area khusus tersebut maupun di area lain. Orang yang dapat membaca memiliki corpus callosum yang lebih tebal. Corpus callosum adalah bagian otak yang menghubungkan antara otak kiri dengan otak kanan. Corpus callosum yang tebal menunjukkan bahwa terdapat lebih banyak pertukaran informasi antara dua bagian otak tersebut, otak bagian kiri berperan untuk memproses kata-kata, sedangkan otak bagian kanan lebih banyak berfungsi untuk mengenali pola-pola. Orang yang dapat membaca memiliki pola-pola aktivitas otak yang lebih luas ketika merespon kata-kata yang diucapkan oleh orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa stimulus verbal memicu respon visual. Orang yang dapat membaca juga memiliki ingatan terkait verbal yang lebih panjang dibandingkan dengan orang yang tidak bisa membaca, karena kata-kata diolah lebih mendalam dan melibatkan berbagai indera (penglihatan dan pendengaran) serta melibatkan pengenalan terhadap bagian-bagian dari suara yang membentuk kata-kata tersebut.

Literasi dan Intelegensi

Selain mempengaruhi aktivitas otak, kemampuan kita dalam mebaca juga memengaruhi kapasitas kita dalam memproses informasi.

Orang yang dapat membaca lebih cenderung memaksimalkan kerja otaknya. Satu penemuan menunjukkan bahwa ketika sebuah negara lebih maju secara ekonomi dan menyebabkan tingkat literasi meningkat, hal tersebut diikuti dengan meningkatnya nilai IQ rata-rata penduduk negara tersebut.

Penemuan ini menunjukkan hubungan yang sangat kompleks karena banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi meningkatnya skor IQ ketika sebuah negara mulai berkembang: nutrisi yang lebih baik, kesehatan kehamilan yang lebih baik, kelahiran bayi yang lebih sehat, jumlah anggota keluarga yang lebih sedikit, dan meningkatnya kompleksitas hidup di lingkungan modern (Barber, 2005).

Berbekalkan fakta bahwa belajar membaca mempengaruhi perkembangan otak, sangat bisa dipahami bahwa meningkatnya skor IQ paling tidak juga dipengaruhi oleh faktor literasi. Salah satu bukti dari argumentasi tersebut adalah penemuan yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara skor IQ dengan durasi pendidikan yang diambil. Semakin banyak waktu yang dihabiskan di sekolah/perguruan tinggi, semakin tinggi pula skor IQ. Implikasinya, bisa dilihat dari murid-murid yang lebih pintar lebih cenderung untuk menyelesaikan SMA dan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Berdasarkan pada penemuan bahwa pendidkan memiliki potensi untuk meningkatkan intelegensi, dapat diargumentasikan bahwa pendidkan tingkat tinggi harus menjadi hak warga negara.

Komitmen negara untuk menyediakan pendidikan tinggi yang terjangkau pada akhirnya dapat memberikan timbal balik yang jauh lebih besar bagi negara. Contohnya negara Irlandia yang mulai berkomitmen untuk menyediakan pendidikan tinggi yang terjangkau sejak 1960 secara bertahap mulai bergerak dari negara paling miskin menjadi negara yang paling kaya di Eropa. Argumentasi ini diperkuat dengan bukti bahwa literasi juga memiliki manfaat bagi kesehatan.

Literasi dan Kesehatan

Terlepas dari manfaat ekonomis pendidikan tinggi, riset menunjukkan bahwa kesehatan secara umum dan usia kehidupan, meningkat seiring dengan meningkatnya tingkatan pendidikan tinggi yang diambil (Molla, Madans, dan Wagener, 2004). Riset ini tidak melibatkan efek dari merokok, konsumsi alkohol, atau faktor risiko lain dalam analisanya.

Riset tersebut dapat lebih mudah dipahami dengan melihat fenomena demensia atau kepikunan. Demensi atau kepikunan sangat berkaitan dengan fungsi-fungsi otak dan seringkali merupakan tanda-tanda semakin dekatnya kematian.

Salah satu penyebab utama dari demensia adalah pembuluh kapiler otak yang tidak berfungsi dengan baik sehingga sel-sel otak tidak menerima nutrisi yang cukup untuk memproses informasi secara efektif. Orang yang berpendidikan menggunakan lebih banyak kapasitas otak sepanjang hidupnya sehingga sirkulasi darah dalam otak terjaga dengan baik.

Otak dan Media Elektronik

Otak kita merespon informasi teks yang memberikan dampak positif untuk kesehatan dan intelegensi. Namun Riset-riset seringkali menganggap TV, internet, permainan elektronik, dan media sosial sebagai hal yang buruk bagi kita (Greenfield, 2015).

Hal tersebut agaknya terlalu berlebihan. Pada kenyataannya, otak manusia memiliki kebutuhan yang tak terbatas terhadap informasi-informasi baru, dan kebutuhan akan informasi baru tersebut bermanfaat bagi otak, meskipun banyak orang yang sering mengeluhkan teknologi baru.

Diterjemahkan dari tulisan Nigel Barber, Ph.D. https://www.psychologytoday.com/blog/the-human-beast/201704/your-brain-text

Daftar Pustaka

Henrich, J. (2015). The secret of our success: How culture is driving human evolution domesticating our species and making us smarter. Princeton, NJ: Princeton university Press.

Barber, N. (2005b). Educational and ecological correlates of IQ: A cross-national investigation. Intelligence, 33, 273-284.

Molla, M. T., Madans, J. H., and Wagener, D. K. ( 2004). Differentials in adult mortality and activity limitation by years of education in the united states at the end of the 1990s. Population and Development Review. 30, 625-646.

Greenfield, S. (2015). Mind change: How digital technologies are leaving their mark on our brains. New York: Random House.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here