Coba bayangkan ketika kita sudah bercerita atau menjelaskan panjang lebar soal satu hal, tetapi ternyata lawan bicara kita tidak mendengarkan kita, apa yang kamu rasakan?

“…hanya sebatas melakukan hearing, bukan listening…”

Dalam berbagai situasi, orang sering mengabaikan isi pembicaraan orang lain. Misalnya saat mendengarkan amanat pembina upacara, atau ketika mendengarkan pidato sambutan yang panjang. Secara sensoris, ia mendengar apa yang diucapkan oleh si tukang pidato, tapi isi pidatonya cuma sekilas di telinganya saja. Ia hanya sebatas melakukan hearing, bukan listening, jadi ketika ditanya apa isi pidatonya, ia tidak bisa menjawab.

Di luar alasan teknis seperti kebisingan, atau masalah organ pendengaran, ada alasan psikologis kenapa orang tidak mendengarkan orang lain. Quinn (1984), merangkum dua alasan utama yang bisa terjadi pada diri seseorang ketika ia tidak mendengarkan orang berbicara.

Orang yang tidak mendengarkan orang lain berbicara bisa jadi karena pikirannya terlalu banyak memikirkan hal lain seperti masalah keluarga atau pekerjaan, sehingga orang tersebut tidak bisa memusatkan atensi pada isi pembicaraan. Otak orang tersebut berusaha untuk memperhatikan isi pembicaraan, tetapi karena banyak hal lain yang mengganggu pikirannya, ia jadi susah memusatkan perhatian.

Penolakan yang dimaksud di sini bukan berarti secara gambling orang tersebut menolak untuk mendengarkan, tetapi karena otaknya menolak untuk memperhatikan dan memilih untuk tidak memasukkan isi pembicaraan ke dalam memori. Penolakan ini bisa terjadi karena faktor emosional dari orang tersebut, seperti:

  1. Ia tidak suka pada orang yang sedang berbicara.
  2. Ia merasa bahwa cara pembicara menyampaikan pembicaraan terlalu monoton atau terlalu radikal.
  3. Ia tidak tertarik pada topik yang sedang dibicarakan, bisa jadi karena topik tersebut bukan bidangnya, atau karena topik tersebut terlalu menyentuh emosi nya, misalnya topik soal perceraian kedua orang tuanya.
  4. Ide-ide yang disampaikan bertentangan dengan keyakinan yang selama ini dianutnya, misalnya ketika ada seseorang yang menceramahinya soal bahaya merokok, padahal ia adalah seorang perokok.

Sebagai seorang pembicara, selain harus siap dengan konten pembicaraan, kita juga harus siap untuk memahami lawan bicara atau audiens kita. Berempatilah pada situasi mereka dan berusahalah untuk menyampaikan pembicaraan sesuai dengan situasi mereka, agar pembicaraan kita dapat didengar dan diterima oleh mereka.

Baca juga:
Meningkatkan Kemampuan Mendengar untuk Menyerap Informasi Lebih Banyak

 

Referensi

Quinn, V. N. (1984). Applying psychology. USA: McGraw-Hill.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here