Berstatus “jomblo” atau lajang sering kali membuat seseorang dijadikan bahan guyonan dan terkadang membuat penyandang status ini merasa tertekan. Telebih jika para lajang ini selalu ditanyai terkait kapan mengakhiri masa lajangnya oleh lingkungan sekitar.

Stigma “jomblo” yang terkesan “ngenes”, kesepian, dan kurang bahagia membuat para jomblo sering menjadi bahan bulan-bulanan. Namun berdasarkan beberapa hasil penelitian, berstatus “jomblo” atau lajang memiliki beberapa keuntungan tersendiri. Inilah 4 alasan kenapa kamu yang tidak perlu khawatir berstatus lajang alias jomblo:

  1. Orang lajang lebih bahagia

Hasil survei Badan Pusat Statisik (BPS) tahun 2017 menyebutkan bahwa orang lajang mempunyai indeks kebahagian yang paling tinggi bila dibandingkan dengan orang yang menikah dan orang yang bercerai. Indeks kebahagian penduduk dengan status lajang sebesar 71,530. Sementara itu indeks kebahagian orang yang menikah sebesar 71,09. Selain itu ditilik dari Subdimensi Kepuasan Hidup Personal, orang dengan status lajang memiliki indeks yang tertinggi yakni 68,37. Hasil ini juga selalu konsisten dengan hasil survey BPS sejak tahun 2012.

  1. Orang lajang memiliki lebih banyak teman

Dalam sebuah survei tahun 2015 yang dilakukan Lever dkk. pada 25.000 orang dewasa di Amerika, ditemukan bahwa orang yang berstatus lajang, baik pria maupun wanita, memiliki teman yang lebih banyak daripada orang yang sudah menikah.

  1. Kesempatan untuk mengembangkan diri yang lebih besar

Sebuah studi dari Marks dan Lambert (1998) menemukan bahwa ada hubungan antara menjadi lajang dan pengalaman yang lebih besar untuk mandiri, otonom, dan mengembangkan diri, bila dibandingkan dengan orang yang telah menikah. Coba tengoklah teman-temanmu yang masih lajang yang mayoritas memiliki waktu untuk mengembangkan diri dan mengejar cita-cita pribadi.

  1. Kehidupan sosial dan pengalaman untuk berkembang

Sebuah studi dari Bella dePaulo (2017) menyatakan bahwa para “jomblo” mepunyai kecenderungan untuk memiliki kehidupan sosial yang lebih baik dan merasakan perkembangan psikologi secara lebih baik daripada orang yang sudah menikah. Studi ini juga menemukan bahwa para lajang yang telah mapan dan mandiri cenderung tidak mengalami emosi negatif.

Oleh karena itu menjadi lajang atau jomblo tidak selalu berhubungan dengan keadaan yang tidak bahagia atau keadaan yang menyedihkan seperti yang kita pahami selama ini. Karena banyak penelitian menyebutkan bahwa menjadi jomblo juga memiliki keuntungan tersendiri dan membuat seseorang mencapai kebahagiaannya.

Yuk jangan jadikan status jomblo sebagai guyonan atau ejekan, seperti para politisi yang menjadikan jomblo sebagai guyonan untuk menarik simpati. Karena hal inilah yang justru yang membuat para lajang ini menjadi tidak bahagia.

Referensi :

B. J., Lever, J., Frederick, D., & Royce, T. (2015). Close adult friendships, gender, and the life cycle. Journal of Social and Personal Relationships, 32, 709-736

Marks, N., & Lambert, J. D. (1998). Marital status continuity and change among young and midlife adults: Longitudinal effects on psychological well-being. Journal of Family Issues19, 652-686.

DePaulo, B. (2017, May 13). The Stories We Tell About Single People Aren’t True. Retrieved August 20, 2017, from https://www.psychologytoday.com/blog/living-single/201705/the-stories-we-tell-about-single-people-arent-true

Benincasa, S. (2016, August 10). Psychologists say single people are more fulfilled. I’m getting to understand why | Sara Benincasa. Retrieved August 20, 2017, from https://www.theguardian.com/commentisfree/2016/aug/10/psychology-single-people-more-fulfilled-relationships

Sari, E. V. (n.d.). Survei BPS: Orang Lajang Indonesia Paling Bahagia. Retrieved August 20, 2017, from https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170815130650-78-234851/survei-bps-orang-lajang-indonesia-paling-bahagia/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here